BANDA ACEH | Ketua Umum Partai Aceh yang juga mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Muzakir Manaf atau Mualem, menyampaikan pesan khusus kepada para mantan kombatan GAM untuk menjaga kekompakan dan tidak terpecah belah. Seruan itu disampaikan Mualem melalui sebuah video yang diunggah di akun Facebook resminya dan dikelola oleh tim media pribadinya.
Dalam video tersebut, Mualem berbicara dengan nada tenang namun tegas. Ia meminta khusus kepada para panglima sagoe hingga tingkat wilayah agar tetap memelihara semangat kolektif yang dahulu menjadi kekuatan utama GAM dalam memperjuangkan kepentingan Aceh. “Saya berpesan kepada seluruh mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka, terutama para panglima di daerah masing-masing, mulai dari tingkat sagoe hingga wilayah, agar tetap menjaga kekompakan,” ucapnya.
Mualem tak hanya bicara soal solidaritas internal para mantan pejuang. Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan pascakonflik tak kalah penting dan harus ditempuh dengan kepala dingin serta konsistensi terhadap jalur politik yang telah diambil sejak penandatanganan Perjanjian Helsinki hampir dua dekade lalu. “Mari bersama-sama kita berpikir untuk melanjutkan perjuangan dan merawat damai di Aceh. Jangan terpecah belah atau ‘lompat pagar’, karena sebelumnya sudah banyak yang salah langkah,” kata Mualem.
Istilah “lompat pagar” menjadi simbol pengkhianatan terhadap jalan perjuangan bersama, yang menurut Mualem, telah teruji melewati masa-masa panjang konflik dan transisi damai. Ia tak secara eksplisit menyebut pihak mana yang dianggap telah berpaling atau menyimpang, namun peringatannya cukup jelas diarahkan kepada mereka yang mulai menjauh dari garis perjuangan Partai Aceh dan Komite Peralihan Aceh (KPA).
Mualem juga menunjukkan nada optimistis dalam pernyataannya. Ia meyakini bahwa tahun 2026 akan menjadi titik balik bagi perjuangan panjang rakyat Aceh. Meski tidak merinci agenda atau bentuk keberhasilan yang dimaksud, optimismenya mengisyaratkan adanya konsolidasi arah politik yang tengah disiapkan. “Saya yakin dalam waktu dekat ini, mungkin pada tahun 2026, akan seperti yang kita harapkan dan hal tersebut akan berhasil,” ujarnya dalam video berdurasi sekitar dua menit itu.
Di tengah dinamika sosial dan politik Aceh yang kembali menghangat dalam beberapa waktu terakhir, seruan Mualem ini muncul di saat sebagian faksi mantan kombatan mulai menunjukkan gejala fragmentasi dan silang pendapat. Penanganan bencana banjir di sejumlah wilayah Aceh, sikap terhadap pusat, serta soal simbol-simbol identitas daerah turut memperuncing perdebatan internal di kalangan mantan GAM.
Lewat pesannya, Mualem mengajak semua pihak untuk kembali menyadari sejarah panjang perjuangan dan tidak mudah terjebak dalam tarik-menarik kepentingan sesaat. Ia menilai, hanya dengan bersatu dan teguh pada prinsip awal, cita-cita yang diperjuangkan selama konflik berdarah di masa lalu bisa berbuah hasil nyata dalam politik pembangunan dan masa depan Aceh ke depan.
Meski tak menyebut strategi politik secara detail, pernyataan Mualem dipandang sebagai sinyal konsolidasi menjelang tahun politik dan kemungkinan eskalasi isu-isu penting Aceh di tingkat nasional tahun depan. Dalam video tersebut, kerendahan hati dan ketegasan menyatu sebagai pesan moral yang ditujukan pada struktur KPA dan basis massa loyal Partai Aceh.
Hingga akhir video yang diunggah di media sosial pribadinya itu, Mualem menutup dengan ajakan bersatu dan tidak saling meninggalkan. “Tetap dalam barisan. Jangan saling meninggalkan, jangan saling berkhianat,” katanya. Pesan itu seperti mengingatkan bahwa ikatan sejarah perjuangan masih menjadi pengikat identitas, bahkan ketika politik telah menjadi medan yang lebih kompleks daripada medan tempur. (*)




















